Kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan.
Secara etimologis berasal dari bahasa Yunani κριτικός, kritikós – “yang membedakan”, kata ini sendiri diturunkan dari bahasa Yunani Kuna κριτής, krités, artinya “orang yang memberikan pendapat beralasan” atau “analisis”, “pertimbangan nilai”, “interpretasi”, atau “pengamatan”. Istilah ini biasa dipergunakan untuk menggambarkan seorang pengikut posisi yang berselisih dengan atau menentang objek kritikan.(wikipedia)
Kritikus modern mencakup kaum profesi atau amatir yang secara teratur memberikan pendapat atau menginterpretasikan seni pentas atau karya lain (seperti karya seniman, ilmuwan, musisi atau aktor) dan, biasanya, menerbitkan pengamatan mereka, sering di jurnal ilmiah. Kaum kritikus banyak jumlahnya di berbagai bidang, termasuk kritikus seni, musik, film, teater atau sandiwara, rumah makan dan penerbitan ilmiah.
Kita sering melihat beberapa kritikus di televisi sedang asyik mengkritik tentang sesuatu hal yang sedang terjadi baik hal politik, ekonomi atau bahkan pemerintahan. Semua hal yang menurut mereka (para kritikus) dianggap melenceng atau janggal pasti langsung dihajar dengan ribuan kritis mulai dari sekedar singgungan ringan atau bahkan langsung pada justifikasi. Siapakah sebenarnya sang kritikus itu apakah kita juga bisa menjadi seorang kritikus? Simak cerita singkat yang tidak bermakna di bawah ini.
Cerita sang kritikus
Inilah yang bisa dilakukan oleh seorang pemalas yang hanya bisa membebankan hidup pada orang lain. Sementara hidupnya yang masih belum lepas dari kebutuhan harus dilimpahkan kepada orang di sekitarnya yang jelas untuk mengatasi bebannya sendiripun masih sempoyongan. Yang terparah adalah ia tidak pernah merasa berdosa dan bahkan cenderung perfectionis memandang yang lain tidak akan bisa sesempurna dirinya. Sifat inilah yang menjadikan ia sebagai seorang kritikus ulung. Baca entri selengkapnya »